_aku udah di halte kampus
neh :( _
Begitu isi pesan singkat
yang aku kirim ke Mbak Nisa, Reisya, juga Millah.
Dengan pasang wajah kesal
aku kirim pesan singkat itu kepada ketiga sahabatku .
“ahh, menunggu adalah hal
yang paling membosankan” gerutuku dalam hati
15 menit berlalu,
akhirnya yang ku tunggu datang juga.
Aku, Millah, Nisa dan Reisya
siap memulai perjalanan kami. Dan kami
memutuskan untuk mencari bus yang akan membawa kami ke terminal kalideres.
“jangan yang itu chintya.. mahal!” bagitu ucap mbak nisa saat aku menunjuk salah satu bus jurusan
kalideres berwarna kuning, terhat tulisan “Asli Prima” dibagian samping bus,
sepertinya fasilitasnya nyaman.
“lho? Emang yang murah yang mana?” jawabku bingung.
“karena aku bukan orang tangerang sih, jadi maaf kalau tidak
tahu!” godaku
“tuh,, yang ijo.. ketiga dari bus kuning ini” ucap mbak nisa samil jarinya menunjuk ke arah bus yang terlihat
lebih besar tetapi sepertinya tidak begitu nyaman jika dibandingkan dengan bus
yang aku tunjukan barusan
“apa bedanya nis?”tanya reisya yang juga
senasib dengan ku tidak memahami bus jurusan tangerang!
“yang tadi pake AC, qlo yang itu ACnya alami!hhaa…”ucap mbak nisa
“hhaa.. oke boleh! kita kan mahasiswa, jadi sesuaikan dengan isi
dompet yah!” tambaku tertawa geli
“yah.. yang pentingkan nyampe!”tambah millah
--- ohh benar dugaanku, ,
bus ijo ini pasti akan sesak dan puaaannaass… ditambah lagi macet! Hikz..hikz… mnyedihkan….!
Tetapi untuk mengobati rasa ketidaknyamanan itu aku dan reisya duduk
bersebelahan mencoba mengalihkan suasana dengan mendengarkan musik dari
pinkpoohku dengan handset.
“maaf yah abang pengamen, lagu edcoustic mengalihkanku darimu” ucap reisya dengan suara sedikit berbisik, membuat aku tertawa
geli mendengar ucapannya.
Perjalanan kami dimulai
dari serang, masuk tol serang timur – Ciujung – Keragilan – Balaraja – Cikupa- Bitung-
Karawaci – Serpong – cikokol –kota tangerang – batu ceper – kalideres. Rute perjalanan
yang cukup panjang. Ditempuh selama kurang lebih 90 menit.
Sesampainya di kalideres,
kami berempat bertemu dengan anggun yang sengaja menunggu di kalideres. Karena jarak
rumahnya yang dekat dengan terminal kalideres ini.
Setelah membeli beberapa cemilan dan air
minum, kami membeli tiket busway , lalu duduk manis sambil menunggu yuli dan
yusrin. Dua orang temanku di prodi pendidikan matematika juga.
“huh,
lama banget sih yuli… kan nanti pulangnya kesorean” milla mulai ngomel.
“sms nggak di balas, mungkin mereka dalam perjalanan ” ucapku
10 menit kemudian yang
ditunggu pun akhirnya datang.
Dan kami pun berangkat menuju kota tua dengan mengunakan
busway.
Kalideres menuju Harmoni,
dilanjutkan mengambil jalur busway yang membawa kami ke derah kota. Tepatnya
Jl. Taman Fatahillah – Jakarta Barat. Perjalanan menghabiskan waktu selama 30
menit.
At Bus Trans Jakarta
Setibanya di kota tua…
Terletak di Taman Fatahillah No.1 Jakarta barat.
Tidak ingin hanya sekadar
bekeliling-keliling dan berfoto ria, aku pun memberanikan diri bertanya kepada
salah seorang petugas di museum ini.
“Museum ini memiliki sejarah cukup panjang, diresmikan tahun
1710 pada masa pemerintahan Gubernur Jendeal Abraham van Riebeck” jelas pak yanto. Seorang petugas yang menyambut kedatangan
kami di bagian pintu masuk museum
“kita kesini kan mau foto-foto ncin, ngapain deh nanya-nanya? Kayak
ngerti sejarah saja!hahah… ” goda anggun padaku saat
aku memasang wajah serius mendengar penjelasan pak yanto
“lho? Tidak ada salahnya kan? Sejarah itu penting gun, sayang
banget kalau kita kesini hanya sekadar berfoto saja!” jawabku.
Sebenarnya memang cerita
pak yanto tentang sejarah museum ini terdengar asing ditelingaku. Wajar saja rasanya jika itu terjadi, aku belajar
sejarah terkahir kelas XII SMA lalu, itupun hanya sebagai mata pelajaran
pelengkap saja. Padahal sejarah itu sangat penting.
“inget pesan ini kan? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai
sejarahnya” jawabku mantap di depan teman-temanku yang masih saja asyik
berpose di samping benda-benda antik di dalam museum ini.
“iya iya ingat bu guru” jawab anggun, diikuti
tawa riang kelima sahabatku yang lainnya.
Aku dan teman – teman terkagum-kagum
melihat barang-barang peninggalan sejarah dimuseum ini.

Koleksi museum sejarah Jakarta
ini terdiri dari beragam bahan material sejenis juga campuran. Ada yang terbuat
dari batu, logam, kayu, kaca, Kristal, gerabah, keramik, kain, kulit, kertas
dan tulang. Semua info tersebut ada di setiap bagian penjelasan benda-benda
peninggalan sejarah tersebut.
Dari penjelasan pak yanto
ternyata museum ini memiliki pembendaharaan koleksi mencapai 23.000 buah yang
bersala dari warisan Museum Djakarta Lama, hasil pengadaan Pemerintah DKI Jakarta,
juga hasil eksvasi ((penggalian arkeologi).
Di halama museum terdapat
juga beberapa buah meriam.
Meriam si jagur namanya
Di museum fathaillah juga
kami bertemu pengunjung yang lain. Dari dalam Negari maupun Luar Negeri. Karena ternyata museum ini memang memiliki
tujuan dapat dijadikan sebgai pusat informasi sejarah kota Jakarta dan tidak
ingin menjadi tempat untuk menghimpun, meneliti, memelihara dan memamerkan
benda koleksi serta menyajikan informasi sejarah kota Jakarta saja, tetapi juga
bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa maupun asing, anak-anak, orang
dewasa bahkan penyandang cacat pun mamapu menambah pengetahuan serta pengalaman,
karena semua dapat dinikamati sambil rekreasi.
Jadi berekreasi sambil
belajar.
Tak terasa waktu dzuhur
tiba, akhirnya kami menunda sejenak niat penjelajahan kami ke museum lainnya.
“Makan and shalat kan
udah, sekarang kita foto-foto sama sepeda ontel yuk??” ajak yusrin
“semangat!!!” jawab yuli
“hhaa… ayo!!” jawab kami
serempak
kami melanjutkan penjelajahan!
Dengan uang 10 ribu , kami puas berlenggak
lenggok dengan sepeda kuno itu, juga menikmati rasanya menjadi remja zaman
70-an mengendarai sepeda antik ini

Setelah Puas dengan sepeda ontel, tujuan kami selanjutnya adalah Museum Oud Batavia (Batavia lama) yeng terletak di Jl.Pintu Besar Utara No.27 Jakarta . Kini berganti nama menjadi Museum Wayang. Dan Museum ini diresmikan tahun 1936.
Seperti tidak ingin
kehilangan moment-moment ini, kami berfoto ria diantara patung –patung wayang, tulisan prasasti
dengan bahasa belanda, juga tedapat beberapa alat musik gamelan, yang sering
digunakan dalam acara pentas seni wayang golek, wayang orang, dan lain-lain.
Dan alat musik yang
berada di museum ini tenyata sudah berusia puluhan tahun, tapi tetap menghasilkan suara yang merdu saat dimainkan.

Merasa cukup puas di
museum wayang, kami memutuskan untuk pulang! Karena waktu sudah sangat tidak
memungkinkan kami tetap disini.. khawatir samapai serang larut malam.
“pegel, polusi!!!!”
ucapku saat menunggu busway.
“Tak terbayang jika harus
setiap hari seperti ini, inilah yang membuat Jakarta tidak menjadi kota impianku”
gerutuku, disambut tawa hangat dari keenam sahabatku.
Semua lelah hari ini tapi
terbayar dengan rasa kagum pada sejarah, yang selalu menyuguhkan cerita dan
makna indah didalamnya.
Belajar dari sebuah
Museum yang masih menyimpan rapi , benda-benda peninggalan sejarah. Mengajarkan
betapa pentingnya sejarah. Penting untuk dijaga …
^_^
Terimakasih untuk hari
yang menyenangkan dan bersejarah ini…













