Selasa, 01 November 2011

^ Gerimis Senja ^




“Aku berangkat besok.”
“Lalu?”
“Ingin mengucapkan sesuatu mungkin?”
“Tidak ada. Aku tidak suka bilang selamat tinggal.” 
“aku berangkat ke Sidney besok, mungkin kamu mau ikut mengantarkanku ke bandara??,” ucap fathin sambil berdiri hendak pergi. Namun baru saja hendak mengambil langkah pertama, Nisa menarik tasnya , fathin duduk lagi.
“apa?”tanya fathin
“Jangan biarkan dirimu terlampau jauh dari jangkauanku, aku tahu pasti waktu hanya menunggu untuk akhirnya menjauhkanmu dariku dan membuatku mudah tidak mengingatmu lagi.”
Fathin tersenyum mendengar jawaban gadis manis yang duduk disampingnya.
“lucu?” tanya nisa kesal
“sulit untuk kita membaca apa yang akan terjadi. Detik berikutnya masih rahasia de, tak perlu dibantahkan waktu akan membawanya di ujung kisah ini, tak usah berpikir terlalu jauh” jawab fathin mencoba menenangkan gadis yang disayanginya
“apa aku terlihat begitu ketakutan?” tanya nisa
“wajar, itu karena kamu tak yakin dengan hatimu..dan hatiku” jawab fathin
“aku ingin waktu berbagi rahasia tentang apa yang akan terjadi” jawab nisa
Fathin hanya tersenyum.
“ayo kita pulang!” ajak fathin
“tanpa payung yah? Aku ingin kita berlari dibawah gerimis.. mungkin untuk yang terakhir”
“konyol, apa itu harapanmu?”fathin sedih mendengar jawaban nisa
“tidak, tapi siapa yang tahu dengan masa depan?.. dan semua bisa terjadi semaunya”
“kehendakNYA.. itu terbaik untuk kita” tambah nisa
“ups.. tunggu”
“kenapa?”
“Taman mesjid ini..”
“saksi kisah kita ada” ucap fathin sambil melangkahkan kaki,dan beranjak dari tempat duduknya. Ia menikmati gerimis senja ini bersama alfathunisa, teman hati yang akan sangat dirindukannya ..

 ****
Keesokan harinya, diwaktu senja, gerimis kembali membasahi tanah negeri seribu cinta, disamping jendela kamar, diary pooh menemani nisa..
 “ adalah aku hujan yang membasahi harimu dengan gerimis cinta dan kekonyolan yang sedrhana ku suguhkan untuk mewarnai sedikit ceritamu. Tentang sebuah cita dan cinta, mungkin kau bosan. Itu alasanmu akan pergi? Ahh, fathin.. maaf aku terlalu egois menahanmu disini.. aku tak ingin terlihat rapuh di hadapanmu, aku harus melepasmu… aku tak yakin aku cukup tegar--- kenang aku saat gerimis senja J aku bercerita dalam jingga.. tentang penantianku diujung pelangi”

Nisa diam lagi. Matanya terpejam. Kulitnya diterpa hembusan angin sore menyejukkan yang masuk dengan lembut lewat jendela kamarnya. Dalam imaginya, ia membayangkan sosok fathin yang kini jauh dari jangkauannya. Sudut matanya tiba-tiba saja basah. “aku ingin waktu membisikan tentang apa yang terjadi setelah helaan nafasku selanjutnya” lirih nisa

“Sayang…” sebuah suara menyentakkan imagi yang tengah dibangun nisa susah payah. Nisa membuka mata dan mendapati sosok wanita paruh baya yang lembut tengah menghampirinya
“iya bunda…” jawab nisa dengan segera menghapus airmata dipipinya.
“Allah mencintaimu anakku..” ucap bunda mengelus pipiku
“bunda kenapa menangis?”
“Kau akan jauh lebih tegar dari kami sayang!” suara shyfa, sepupu fathin tiba-tiba memebuatku kaget
“kakak? Fathin sudah berangkat? Maaf. . aku tak cukup kuat melangkahkan kaki ikut ke bandara”
“tapi aku meneleponnya tadi pagi, dan aku rasa dia tak bermasalah jika ku tak mengantarkan kepergiannya. Anggap saja ini uji coba agar kami terbiasa” jawab nisa
“kamu memang harus lebih terbiasa..” ucap shyfa
“iyaa, untuk cita-cita fathin…” belum selesai kalimat terucap dari mulut nisa, shyfa dan bunda memeluknya dengan erat. Larut dalam kesedihan
“sepertinya kalian tidak belajar dari ketegaranku”
“anakku”
“bunda, hapus airmatanya donk.. nisa bisa menunggunya.. ikatan ini akan nisa jaga”
“nisa” air mata shyfa tak terbendung
“senyumku tak cukup menjelaskankah bahwa aku ikhlas? Ini untuk cita-cita fathin, 2 tahun aku rasa bukan waktu yang lama, sesekali fathin akan pulang kan? Kak?” ucap nisa. ada rasa tanya dalam hatinya, mengapa bunda dan shyfa tak kunjung menghentikan tangisannya. Shyfa dan bunda beradu pandang seperti ada sesuatu hal yang ingin mereka sampaikan, namun tercekat di tenggorokan. Entah karena sesak kesediahan atau mereka tidak cukup tegar seperti nisa yang berusaha menata hati.
“bunda? Kakak? Kenapa?” nisa mulai jengah dengan tangisan keduanya yang tak kunjung mereda. Keduanya masih beradu pandang seperti membuat suatu kesepakatan, dan akhirnya bunda berbicara
“fathin sudah tenang disisiNYA sayang, ikhlaskan yah” bunda memeluk erat nisa
“maksud bunda?” nisa tersentak kaget dan berharap pendengarannya salah, atau bunda salah berucap.
“Fathin mengalami kecelakaan tadi pagi saat ia bermaksud menjemputmu untuk ikut ke bandara”
“innalillahi wa innalillahi rojiun.. dia telah pulang kesisiNYA” ucap bunda
{ nisa tak sadarkan diri, meraba hati.. masih adakah ketegaran tersisa?
Ini tentang tangis kehilangan}

***

Di rumah sakit.  

Satu-satunya korban yang tak mampu diselamatkan dari kecelakaan mobil itu adalah Fathin. Dan sekarang, nisa diperkenankan untuk melihat jasad fathin yang sudah tak bernyawa.
Nisa menyingkap kain putih yang menutup sekujur tubuh Fathin, “Fathin…” mata Nisa panas. Tapi tak ada sebutirpun air keluar dari matanya.
 Seorang suster menghampirinya, “Mbak yang namanya Nisa?”
 “Iya sus, saya Nisa.”
 Suster tadi merogoh buku catatan kecil dari kantong samping baju putihnya. Membuka lembar demi lembar buku itu dan berhenti di satu bagian.

“Saya dapat amanat dari Fathin, dia ingin saya menyampaikan ini sama Mbak,” katanya kemudian.
Nisa tersentak, “Apa itu, suster?”
 Suster menyerahkan kertas berisi pesan Fathin yang dituliskan olehnya.
 Nisa buru-buru mengambil kertas itu dan membaca isinya. “Nisa, aku pergi dulu ya. Mungkin lama takkan kembali. Datanglah ke Taman mesjid kampus waktu kamu rindu aku. Aku titipkan cintaku di sana. Di setiap senja terindah yang kamu nikmati. Ingat saja, aku selalu di sampingmu, menemanimu menatap senja dan gerimis”
  
***
 dalam Gerimis Senja

Kamu adalah kisah yang tak sengaja aku tulis di buku takdirku. Kebetulan yang  tak pernah terencana.. tapi mungkin, kamu adalah sebagian kecil rahasia yang Tuhan simpan.
Aku selalu mendo’akanmu teman hatiku….Tuhan mendengar bahwa aku  tak ingin lupa. untuk tetap menyebutkan namamu dihadapan-Nya.
dan aku bisa. kuletakkan sebagian tubuhku yang masih bernyawa di titik kecil kekuatan yang masih tersisa. di sana .. di ujung lembayung senja yang selalu kurindu…

^selama aku menanti…
selama aku mencari..
baying-bayangmu di batas waktu..
matahari membakar rinduku…
terbang bersama mega-mega
menembus dinding waktu…
dalam hati ku panggil namamu…
semoga saja kau dengan dan merasakan…^

di hatimu aku jatuh. Kisah cinta yang tak ku biarkan mati sampai hari ini.. meski aku harus sendiri menikmati gerimis senja ini.. tapi kamu telah tersimpan jauh di dasar ^_^
di sinilah tempat awal kita berpijak. tempat kita menulis masa dimana pernah berharap kebahagiaan ini mendekati abadi, sampai kita tak mampu lagi melawan gravitasi.  

Aku ingin selalu melawati senja ditemani gerimis lembut ini
Dengan ini membawaku kemasa itu… saat kau ucapkan terakhir kali “taman ini saksi kisah kita ada”

“Aku lebih siap dipaksa waktu untuk menunggu, dibanding harus melupakanmu. Kamu benar, waktu menyimpan rahasianya sendiri. Ia tak biasa berbagi. Bawa cintaku ke peraduan terakhirmu, simpanlah dulu, hingga waktunya nanti aku menyusulmu. Sekarang, di sini, aku percaya, kamu bersamaku, menikmati senja yang melukis cintamu.”  :’)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar