“Aku berangkat besok.”
“Lalu?”
“Ingin mengucapkan sesuatu mungkin?”
“Tidak ada. Aku tidak suka bilang selamat tinggal.”
“aku berangkat ke Sidney besok, mungkin kamu mau ikut
mengantarkanku ke bandara??,” ucap fathin sambil berdiri hendak pergi. Namun
baru saja hendak mengambil langkah pertama, Nisa menarik tasnya , fathin duduk
lagi.
“apa?”tanya fathin
“Jangan biarkan dirimu terlampau jauh dari jangkauanku, aku
tahu pasti waktu hanya menunggu untuk akhirnya menjauhkanmu dariku dan membuatku
mudah tidak mengingatmu lagi.”
Fathin tersenyum mendengar jawaban gadis manis yang duduk
disampingnya.
“lucu?” tanya nisa kesal
“sulit untuk kita membaca apa yang akan terjadi. Detik
berikutnya masih rahasia de, tak perlu dibantahkan waktu akan membawanya di ujung
kisah ini, tak usah berpikir terlalu jauh” jawab fathin mencoba menenangkan
gadis yang disayanginya
“apa aku terlihat begitu ketakutan?” tanya nisa
“wajar, itu karena kamu tak yakin dengan hatimu..dan hatiku”
jawab fathin
“aku ingin waktu berbagi rahasia tentang apa yang akan
terjadi” jawab nisa
Fathin hanya tersenyum.
“ayo kita pulang!” ajak fathin
“tanpa payung yah? Aku ingin kita berlari dibawah gerimis..
mungkin untuk yang terakhir”
“konyol, apa itu harapanmu?”fathin sedih mendengar jawaban
nisa
“tidak, tapi siapa yang tahu dengan masa depan?.. dan semua
bisa terjadi semaunya”
“kehendakNYA.. itu terbaik untuk kita” tambah nisa
“ups.. tunggu”
“kenapa?”
“Taman mesjid ini..”
“saksi kisah kita ada” ucap fathin sambil melangkahkan
kaki,dan beranjak dari tempat duduknya. Ia menikmati gerimis senja ini bersama
alfathunisa, teman hati yang akan sangat dirindukannya ..
****
Keesokan harinya, diwaktu senja, gerimis kembali membasahi
tanah negeri seribu cinta, disamping jendela kamar, diary pooh menemani nisa..
“ adalah aku hujan
yang membasahi harimu dengan gerimis cinta dan kekonyolan yang sedrhana ku
suguhkan untuk mewarnai sedikit ceritamu. Tentang sebuah cita dan cinta,
mungkin kau bosan. Itu alasanmu akan pergi? Ahh, fathin.. maaf aku terlalu egois
menahanmu disini.. aku tak ingin terlihat rapuh di hadapanmu, aku harus
melepasmu… aku tak yakin aku cukup tegar--- kenang aku saat gerimis senja J
aku bercerita dalam jingga.. tentang penantianku diujung pelangi”
Nisa diam lagi. Matanya terpejam. Kulitnya diterpa hembusan
angin sore menyejukkan yang masuk dengan lembut lewat jendela kamarnya. Dalam
imaginya, ia membayangkan sosok fathin yang kini jauh dari jangkauannya. Sudut
matanya tiba-tiba saja basah. “aku ingin waktu membisikan tentang apa yang
terjadi setelah helaan nafasku selanjutnya” lirih nisa
“Sayang…” sebuah suara menyentakkan imagi yang tengah
dibangun nisa susah payah. Nisa membuka mata dan mendapati sosok wanita paruh
baya yang lembut tengah menghampirinya
“iya bunda…” jawab nisa dengan segera menghapus airmata dipipinya.
“Allah mencintaimu anakku..” ucap bunda mengelus pipiku
“bunda kenapa menangis?”
“Kau akan jauh lebih tegar dari kami sayang!” suara shyfa, sepupu
fathin tiba-tiba memebuatku kaget
“kakak? Fathin sudah berangkat? Maaf. . aku tak cukup kuat
melangkahkan kaki ikut ke bandara”
“tapi aku meneleponnya tadi pagi, dan aku rasa dia tak
bermasalah jika ku tak mengantarkan kepergiannya. Anggap saja ini uji coba agar
kami terbiasa” jawab nisa
“kamu memang harus lebih terbiasa..” ucap shyfa
“iyaa, untuk cita-cita fathin…” belum selesai kalimat terucap
dari mulut nisa, shyfa dan bunda memeluknya dengan erat. Larut dalam kesedihan
“sepertinya kalian tidak belajar dari ketegaranku”
“anakku”
“bunda, hapus airmatanya donk.. nisa bisa menunggunya..
ikatan ini akan nisa jaga”
“nisa” air mata shyfa tak terbendung
“senyumku tak cukup menjelaskankah bahwa aku ikhlas? Ini
untuk cita-cita fathin, 2 tahun aku rasa bukan waktu yang lama, sesekali fathin
akan pulang kan? Kak?” ucap nisa. ada rasa tanya dalam hatinya, mengapa bunda
dan shyfa tak kunjung menghentikan tangisannya. Shyfa dan bunda beradu pandang
seperti ada sesuatu hal yang ingin mereka sampaikan, namun tercekat di
tenggorokan. Entah karena sesak kesediahan atau mereka tidak cukup tegar
seperti nisa yang berusaha menata hati.
“bunda? Kakak? Kenapa?” nisa mulai jengah dengan tangisan
keduanya yang tak kunjung mereda. Keduanya masih beradu pandang seperti membuat
suatu kesepakatan, dan akhirnya bunda berbicara
“fathin sudah tenang disisiNYA sayang, ikhlaskan yah” bunda
memeluk erat nisa
“maksud bunda?” nisa tersentak kaget dan berharap
pendengarannya salah, atau bunda salah berucap.
“Fathin mengalami kecelakaan tadi pagi saat ia bermaksud
menjemputmu untuk ikut ke bandara”
“innalillahi wa innalillahi rojiun.. dia telah pulang
kesisiNYA” ucap bunda
{ nisa tak sadarkan diri, meraba hati.. masih adakah
ketegaran tersisa?
Ini tentang tangis kehilangan}
***
Di rumah sakit.
Satu-satunya korban yang tak mampu diselamatkan dari
kecelakaan mobil itu adalah Fathin. Dan sekarang, nisa diperkenankan untuk
melihat jasad fathin yang sudah tak bernyawa.
Nisa menyingkap kain putih yang menutup sekujur tubuh Fathin,
“Fathin…” mata Nisa panas. Tapi tak ada sebutirpun air keluar dari matanya.
Seorang suster menghampirinya, “Mbak yang namanya Nisa?”
“Iya sus, saya Nisa.”
Suster tadi merogoh buku catatan kecil dari kantong
samping baju putihnya. Membuka lembar demi lembar buku itu dan berhenti di satu
bagian.
“Saya dapat amanat dari Fathin, dia ingin saya menyampaikan ini
sama Mbak,” katanya kemudian.
Nisa tersentak, “Apa itu, suster?”
Suster menyerahkan kertas berisi pesan Fathin yang
dituliskan olehnya.
Nisa buru-buru mengambil kertas itu dan membaca isinya. “Nisa, aku pergi dulu ya. Mungkin lama takkan
kembali. Datanglah ke Taman mesjid kampus waktu kamu rindu aku. Aku titipkan
cintaku di sana. Di setiap senja terindah yang kamu nikmati. Ingat saja, aku
selalu di sampingmu, menemanimu menatap senja dan gerimis”
***
dalam Gerimis Senja
Kamu adalah kisah yang tak sengaja aku tulis di
buku takdirku. Kebetulan yang tak pernah
terencana.. tapi mungkin, kamu adalah sebagian kecil rahasia yang Tuhan simpan.
Aku selalu mendo’akanmu teman hatiku….Tuhan
mendengar bahwa aku tak ingin lupa. untuk
tetap menyebutkan namamu dihadapan-Nya.
dan aku bisa. kuletakkan sebagian tubuhku yang
masih bernyawa di titik kecil kekuatan yang masih tersisa. di sana .. di ujung
lembayung senja yang selalu kurindu…
^selama aku menanti…
selama aku mencari..
baying-bayangmu di batas waktu..
matahari membakar rinduku…
terbang bersama mega-mega
menembus dinding waktu…
dalam hati ku panggil namamu…
semoga saja kau dengan dan merasakan…^
di hatimu aku jatuh. Kisah cinta yang tak ku
biarkan mati sampai hari ini.. meski aku harus sendiri menikmati gerimis senja
ini.. tapi kamu telah tersimpan jauh di dasar ^_^
di sinilah tempat awal kita berpijak. tempat
kita menulis masa dimana pernah berharap kebahagiaan ini mendekati abadi,
sampai kita tak mampu lagi melawan gravitasi.
Aku ingin
selalu melawati senja ditemani gerimis lembut ini
Dengan ini
membawaku kemasa itu… saat kau ucapkan terakhir kali “taman ini saksi kisah
kita ada”
“Aku lebih siap dipaksa waktu untuk menunggu, dibanding harus
melupakanmu. Kamu benar, waktu menyimpan rahasianya sendiri. Ia tak biasa
berbagi. Bawa cintaku ke peraduan terakhirmu, simpanlah dulu, hingga waktunya
nanti aku menyusulmu. Sekarang, di sini, aku percaya, kamu bersamaku, menikmati
senja yang melukis cintamu.” :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar